Sabtu, 17 April 2010

Menemukan Masalah dan Pemecahannya

Masalah
Masalah merupakan kesenjangan antara das sollen atau teori dengan das sein atau fakta empiris; antara yang ditetapkan sebagai kebijakan dengan kenyataan implementasi kebijakan. Dalam masalah terdiri dua jenis masalah, yaitu:

1. Masalah Sederhana (Simple Problem),
Ciri dari masalah sederhana adalah, berskala kecil, berdiri sendiri (kurang memiliki sangkut paut dengan masalah lain), tidak mengandung konsekuensi yang besar, pemecahannya tidak memerlukan pemikiran luas dan mendalam.
Pemecahan masalah dilakukan secara individual. Teknik yang biasa digunakan, dilakukan atas dasar intuisi, pengalaman, kebiasaan dan wewenang yang melekat pada jabatannya

2. Masalah Rumit (Complex Problem),
Ciri dari masalah rumit adalah, berskala besar, tidak berdiri sendiri (memiliki kaitan erat dengan masalah lain), mengandung konsekuensi besar, pemecahannya memerlukan pemikiran yang tajam dan analitis.
Pemecahan masalah dilakukan secara kelompok yang melibatkan pimpinan dan segenap staf pembantunya. Jenis dari masalah ini adalah masalah yang terstruktur (struktur problems) dan masalah yang tidak terstruktur (unstructured problems).

a. Masalah yang Terstruktur,
Merupakan masalah yang jelas faktor penyebanya, bersifat rutin dan biasanya timbul berulang kali sehingga pemecahanya dapat dilakukan dengan teknik pengambilan keputusan yang bersifat rutin, repetitif dan dibakukan. Sifat pengambilan keputusannya adalah. relatif lebih mudah atau cepat, salah satu caranya dengan penyusunan metode, prosedur, atau program tetap.

b. Masalah yang tidak Terstruktur,
Merupakan penyimpangan dari masalah organisasi yang bersifat umum, tidak rutin, tidak jelas faktor penyebab dan konsekuensinya, serta tidak repetitif. Sifat pengambilan keputusannya adalah, relatif lebih sulid dan lebih lama, diperlukan teknik pengambilan keputusan yang bersifat non-programmed decision-making.

Pendefinisian Masalah
Setelah mengenal jenis masalah tersebut, maka akan dilakukan pendefinisian masalah. Dimana di dalam masalah tersebut terdapat komponen-komponen diantaranya, tantangan, tujuan dan peluang. Berikut cara pendefinisian masalah yang baik:
  • Fakta dipisahkan dari opini atau spekulasi. Data objektif dipisahkan dari persepsi.
  • Semua pihak yang terlibat diperlakukan sebagai sumber informasi.
  • Masalah harus dinyatakan secara eksplisit atau tegas, untuk menghindarkan dari pembuatan definisi yang tidak jelas.
  • Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas adanya ketidak-sesuaian antara standar atau harapan yang telah ditetapkan sebelumnya dan kenyataan yang terjadi.
  • Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas, pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan dengan terjadinya masalah.
  • Definisi yang dibuat bukanlah seperti sebuah solusi yang samar.

Penyelesain Masalah
Penyelesaian atau pemecahan masalah adalah bagian dari proses berpikir. Sering dianggap merupakan proses paling kompleks diantara semua fungsi kecerdasan, pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan-keterampilan rutin atau dasar. Proses ini terjadi jika suatu organisme atau sistem kecerdasan buatan tidak mengetahui bagaimana untuk bergerak dari suatu kondisi awal menuju kondisi yang dituju. Berikut beberapa teknik pemecahan masalah:

1. Curahan Pendapat (Brainstorming) dan Konsensus.
Suatu metode untuk menghasilkan ide gagasan yang banyak mengenai topik tertentu secara kreatif dan efisien. Penyampaian ide-ide dilakukakn melalui proses yang bebas dari penilaian dan kritik.
Prosesnya:
  • Topik atau masalah dirumuskan dan ditulis dengan jelas
  • Tiap anggota tim secara bergantian memberikan idenya. Tak ada penilaian atau kritik
  • Begitu ide disampaikan ditulis pada kertas flipchart atau papan tulis dengan huruf yang dapat dibaca.
  • Demikian proses penyampaian ide terus berlangsung sampai ide tersebut habis.
  • Jika diperlukan, lakukan klarifikasi, penyederhanaan dan kombinasi.
Keunggulan Brainstorming:
  • Adanya spektrum pengetahuan yang lebih luas.
  • Pencarian alternatif keputusan lebih luas & variatif.
  • Adanya kerangka pandangan / perspektif yang lbh lebar.
  • Resiko keputusan ditanggung kelompok.
  • Karena keputusan kelompok, setiap individu termotivasi untuk melaksanakan (shared value ) .
  • Dapat terwujudnya kreativitas & inovasi yang lbh luas, karena adanya berbagai pandangan.
Kelemahan Brainstorming
  • Memakan waktu dan biaya lebih.
  • Efisiensi pengambilan keputusan menurun.
  • Keputusan kelompok dapat merupakan kompromi atau bukan sepenuhnya keputusan kelompok.
  • Bila ada anggota yang dominan, keputusan bukan mencerminkan keinginan kelompok.

Konsensus
Ide pokok dari konsensus adalah, kesepakatan tentang masalah dan cara pemecahan. Sangat efektif digunakan jika mereka yang terlibat memiliki pengetahuan yang relatif sama.

2. Penggunaan Kriteria dan Pembobotan.
Metode yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi & memilih alternatif keputusan terbaik. Digunakan kriteria dan bobot dengan angka-angka (skoring).
Manfaatnya, dapat mengurangi subyektivitas sehingga penilaian dapat menjadi lebih obyektif, serta dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti pemilihan alternatif proyek, pemilihan pegawai teladan dsb.

3. Teknik Moderasi (Moderation Technique).

Pengambilan Keputusan
Keputusan adalah pengakhiran atau pemutusan dari suatu proses pemikiran untuk menjawab suatu pertanyaan, khususnya mengenai suatu masalah atau problema.
Pengambilan keputusan merupakan proses pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, mulai dari identifikasi dan perumusan masalah, pengumpulan dan penganalisaan data dan informasi, pengembangan dan pemilihan alternatif, serta pelaksanaan tindakan yang tujuannya untuk memperbaiki keadaan yang belum memuaskan.
Keputusan lahir dari suatu proses yang rumit, diskusi intensif, berpikir bersama, dan brain storming mendalam dengan analisis yang tajam, multi dimensional atau interdisipliner . Pengambilan Keputusan

Tipe Keputusan
1. Keputusan terprogram (terstruktur)
  • Dibuat menurut kebiasaan, aturan, prosedur; tertulis maupun tidak.
  • Bersifat rutin, berulang-ulang.
2. Keputusan tak terprogram (tidak terstruktur)
  • Mengenai masalah khusus, khas, tidak biasa
  • Kebijakan yang ada belum menjawab.
  • Mis. pengalokasian sumber daya.

Teknik Keputusan Terprogram
1. Tradisional
  • Kebiasaan.
  • Mengikuti prosedur baku.
  • Saluran informasi disusun dengan baik.
2. Modern
  • Menggunakan teknik “operation research”:
          Formula matematika.
          Simulasi komputer.
  • Berdasarkan pengolahan data berbantu komputer.

Teknik Keputusan tidak Terprogram
1. Tradisional
o Kebijakan intuisi berdasarkan kreativitas.
o Coba-coba (trial n error ) .
o Seleksi dan latihan para pelaksana.
2. Modern
o Teknik pemecahan masalah yang diterapkan pada :
   - Latihan pembuatan keputusan.
   - Penyusunan program komputer empiris.

Ciri Keputusan yang Baik:
• Berkaitan langsung dengan sasaran dan tujuan.
• Rasional / logis dalam arti menuntut pendekatan ilmiah.
• Mudah & dapat dilaksanakan (feasible, executable ) .
• Dapat difahami dan diterima semua pihak ( acceptable ) .
• Menggabungkan pendekatan teori, kemampuan berpikir dan pengalaman.
• Tepat waktu dalam arti jangan mengambil keputusan kalau memang belum perlu.



Readmore »

Selasa, 30 Maret 2010

Penulisan Karya Ilmiah


Seperti yang dijelaskan dalam posting kemaren, bahwa karya ilmiah merupakan laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Dalam penulisan karya ilmiah terdapat aturan dan tahap untuk membuatnya, aturan dan tahapan tersebut berfungsi untuk menghindarkan kesalahan pada penulisan karya ilmiah.

Berikut tahapan persiapan menulis karya ilmiah, yaitu:
1.      Tahap persiapan
a.       Menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian. Serta didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah.
b.      Mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis
c.       Mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan
d.      Metodologi (mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data)
2.      Tahap penulisan: perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai
3.      Tahap penyuntingan: dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai.


Komponen Karya Ilmiah
Karya ilmiah terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1.      Bagian awal (pelengkap pendahuluan atau awal)
2.      Bagian isi atau tubuh karangan (merupakan inti)
3.      Bagian akhir (pelengkap akhir)

1. Bagian awal terdiri dari:
Halaman judul
- kata pengantar atau prakata
- sari (abstrak)
- daftar isi
- daftar tabel
- daftar gambar
- daftar lampiran

2.      Bagian isi atau tubuh karangan
Bab I Pendahuluan         
1.1  Latar Belakang Masalah
      1.2 Rumusan Masalah
      1.3 Tujuan Penelitian
      1.4 Ruang Lingkup Kajian
      1.5 Sumber Data
      1.6 Metode Penelitian
      1.7 Sistematika Penulisan atau Penyajian
Bab II Deskripsi Masalah
     (data menurut literatur dan survei)
Bab III Pembahasan
     (komentar penulis atas data yang diperoleh atau pembahasan masalah menurut pemikiran penulis)
Bab IV Kesimpulan dan Saran

3. Bagian pelengkap akhir
a. Daftar pustaka
b. Lampiran (apendiks)
c. Indeks
d. Riwayat hidup


Readmore »

Karya Ilmiah

Karya Ilmiah atau dalam bahasa Inggris scientific paper adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

1. Hakikat Karya Ilmiah
Karya ilmiah ditulis untuk mencari suatu jawaban mengenai suatu hal dan untuk membuktikan kebeneran dari suatu fakta yang ada. Adapun tujuan lain diantaranya, menyampaikan gagasan, memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan atau hasil penelitian. Proses penulisan dan penyajian karya ilmiah dilakukan dengan melakukan studi pustaka dan studi lapangan terlebih dahulu.

Manfaat dari penulisan karya ilmiah tersebut, antara lain:
a. Mengembangkan keterampilan membaca yang efektif, karena sebelum menulis karya ilmiah penulis harus membaca terlebih dahulu.
b. Terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber dan mengembangkan ke tingkat pemikiran yang lebih matang.
c. Akrab dengan kegiatan perpustakaan, seperti bahan bacaan dalam katalog pengarang atau katalog judul buku.
d. Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis.
e. Memperoleh kepuasan intelektual.
f. Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.
g. Ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam penulisan karya ilmiah, terdapat prinsip-prinsip yang harus dipatuhi. Antara lain:
a. Objektif
Setiap pernyataan ilmiah dalam karyanya harus didasarkan kepada data dan fakta. Kegiatan ini disebut studi empiris.
b. Prosedur atau penyimpulan penemuannya melalui penalaran induktif dan deduktif
c. Rasio dalam pembahasan data. Seorang penulis karya ilmiah dalam menganalisis data harus menggunakan pengalaman dan pikiran secara logis

2. Macam-Macam Karya Ilmiah
Berdasarkan Finoza dalam Alamsyah (2008 : 98) terdapat tiga jenis karangan menurut bobot isinya, yaitu:
a. Karangan ilmiah
Karangan ilmiah yang memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa.
Contoh: makalah, laporan, skripsi, tesis dan disertasi.
b. Karangan semi ilmiah atau ilmiah popular
Merupakan karangan yang memiliki aturan baku dan juga tidak terikat pada karangan baku.
Contoh: artikel, editorial, opini, feuture, reportase.
c. Karangan non ilmiah
Karangan yang tidak terikat pada karangan baku.
Contoh: anekdot, opini, dongeng, hikayat, cerpen, novel, roman, dan naskah drama.

Sedangkan berdasarkan Yamilah dan Samsoerizal (1994 : 90) memaparkan bahwa ragam karya ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya. Menurut pengelompokan itu , dikenal ragam karya ilmiah seperti makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

3. Ciri-Ciri Karya Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan yang berisi argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan melalui bahasa tulis yang formal dengan sistematis-methodis. Karangan ilmiah bersifat sistematis dan tidak emosional. Dalam karya ilmiah disajikan kebenaran fakta.

Ciri-ciri karya ilmiah adalah sebagai berikut:
a. Merupakan pembahasan suatu hasil penelitian atau faktual objektif,
Faktual objektif merupakan suatu fakta yang sesuai dengan yang diteliti.
b. Bersifat methodis dan sistematis,
Dalam pembahasan masalah digunakan metode tertentu dengan langkah langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi.
c. Tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah,
Dalam bahasa ilmiah harus baku dan formal. Selain itu laras ilmiah harus lugas agar tidak menghasilkan bahasa yang ambigu atau ganda.


4. Sikap Ilmiah
Dalam melakukan kegiatan karya ilmiah diperlukan sikap karya ilmiah, diantaranya adalah:
a. Sikap ingin tahu,
b. Sikap kritis,
c. Sikap terbuka,
d. Sikap objektif,
e. Sikap menghargai karya orang lain,
f. Berani mempertahankan kebenaran,
g. Menjangkau ke depan

Ketujuh sikap tersebut sangat diperlukan untuk melakukan karya ilmiah, agar penulis pun mendapatkan hasil yang maksimal dan terhalang dari segala kendala.

5. Kesalahan yang ditemukan dalam Karya Ilmiah
Kesalahan yang terjadi pada penulisan ilmiah biasanya diakibatkan karena ketidak konsisten-an dalam penulisan karya ilmiah tersebut. Kecenderungan dalam alur berpikir sehingga menyebabkan ketidak pastian antara tujuan awal hingga tujuan akhir. Selain dalam alur berpikir penulis, kesalahan tersebut dapat datang melalui teknik dalam mengutip.

Berbagai kendala yang jumpai dalam proses penulisan penelitian ilmiah adalah sebagai berikut :
• salah mengerti audience atau pembaca tulisannya,
• salah dalam menyusun struktur pelaporan,
• salah dalam cara mengutip pendapat orang lain sehingga berkesan menjiplak (plagiat),
• salah dalam menuliskan bagian Kesimpulan,
• penggunaan Bahasa Indonesia yang belum baik dan benar,
• tata cara penulisan “Daftar Pustaka” yang kurang tepat (tidak standar dan berkesan seenaknya sendiri),
• tidak konsisten dalam format tampilan (font yang berubah-ubah, margin yang berubah-ubah).




Readmore »

Sabtu, 27 Maret 2010

Penalaran Deduktif dan Induktif bagian II

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Sehingga pengamat akan mendapatkan gambaran sebelum mengungkapkan sebuah pendapat.

Pola penalaran secara sederhana dibedakan menjadi dua:
  1. Penalaran Induktif, yaitu adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus.
  2. Penalaran Deduktif, yaitu adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan.

Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Deduktif:
Di dalam penalaran deduktif terdapat entimen macam silogisme, yaitu silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme alternatif dan silogisme entimen.

1. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus :Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.

Contoh:
Contoh silogisme Kategorial:
My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn : Badu adalah mahasiswa
K : Badu lulusan SLTA

My : Tidak ada manusia yang kekal
Mn : Socrates adalah manusia
K : Socrates tidak kekal

My : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.
Mn : Amir tidak memiliki ijazah SLTA
K : Amir bukan mahasiswa


2. Silogisme Hipotesis
Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis yaitu, bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.

Contoh :
My : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Mn : Air tidak ada.
K : Jadi, Manusia akan kehausan.

My : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn : Makhluk hidup itu mati.
K : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.

3. Silogisme Alternatif
Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh
My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
K : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.

4. Silogisme Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh:
- Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
- Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.

Namun silogisme kategorial dapat dibedakan menjadi dua saja, yaitu silogisme kategorial dan silogisme tersusun. Dimana silogisme tersusun terbagi lagi menjadi tiga kategorial yaitu:
a. Epikherema
Epikherema adalah jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab: penjelasan sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun poembuktian keberadaannya.

Contoh:
Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak miliki bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya. Sultan Mahmud Badaruddin adalah pahlawan. Jadi, Sultan Mahmud Badaruddin itu mulia.

b. Entimem
Silogisme ini merupakan jenis silogisme yang sama dengan pada penjelasan di atas.

c. Sorites.
Silogisme tipe ini sangat cocok untuk bentuk-bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasif. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari tiga premis, bergantung pada topik yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung-hubungkan demikian rupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis keempat, dan seterusnya, hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir.

Pola yang digunakan sebagai berikut:

S 1…………………………………………P1

S2 …………………………………………P2

S3……………………….…………………P3, dst.


Kesimpulan: S1 ……………………………P3

Macam-Macam Silogisme di dalam Penalaran Induktif:
Di dalam penalaran induktif terdapat tiga bentuk penalaran induktif, yaitu generalisasi, analogi dan hubungan kausal.

1. Generalisasi
Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.

Contoh generalisasi :
Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

2. Analogi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.

Contoh analogi :
Nina adalah lulusan Akademi Amanah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik

3. Hubungan Kausal
Penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.

Macam hubungan kausal :
a. Sebab- akibat.
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
b. Akibat – Sebab.
Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
c. Akibat – Akibat.
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.
 


Readmore »

Sabtu, 20 Maret 2010

Penalaran Deduktif dan Induktif

Penalaran merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan dikemukakannya kepada orang lain.

Ada dua macam pola penalaran, yaitu:
1. Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau individual.
Penalaran deduktif adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis-premisnya.

Contoh klasik dari penalaran deduktif:
  • Semua manusia pasti mati (premis mayor)
  • Sokrates adalah manusia. (premis minor)
  • Sokrates pasti mati. (kesimpulan)
Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif.

2. Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut induksi.
Penalaran induktif dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses berpikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara gejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat sebab, dan akibat-akibat.

Contohnya dalam menggunakan preposisi spesifik seperti:
Es ini dingin. (atau: Semua es yang pernah kusentuh dingin.)
Bola biliar bergerak ketika didorong tongkat. (atau: Dari seratus bola biliar yang didorong tongkat, semuanya bergerak.)
untuk membedakan preposisi umum seperti:
Semua es dingin.
Semua bola biliar bergerak ketika didorong tongkat.
Induksi kuat:
Semua burung gagak yang kulihat berwarna hitam.
Induksi lemah:
Aku selalu menggantung gambar dengan paku.
Banyak denda mengebut diberikan pada remaja.
Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Perbedaan dari penalaran deduktif dan induktif adalah, penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.




Readmore »